by editor
JEMBER – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Jember menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem investasi daerah melalui sinergi lintas sektor, kolaborasi bersama Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), serta penguatan sektor pariwisata terintegrasi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Forum Group Discussion (FGD) penyusunan strategi promosi penanaman modal yang melibatkan pelaku usaha sektor pariwisata, organisasi pengusaha termasuk BPC HIPMI Jember, serta perangkat daerah rumpun investasi terkait. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mendorong percepatan realisasi investasi, peningkatan kepastian berusaha, dan penguatan daya saing Kabupaten Jember di tingkat regional maupun nasional. Kepala DPMPTSP Kabupaten Jember, Ibu Isnaini Dwi Susanti, S.H., M.Si menyampaikan bahwa Jember memiliki potensi sumber daya yang lengkap dan kompetitif. Pada sektor pertanian, komoditas unggulan seperti tembakau cerutu, kopi, dan edamame didukung oleh lahan vulkanik yang subur serta keberadaan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka). Potensi tersebut menjadi fondasi pengembangan investasi berbasis agroindustri dan hilirisasi produk unggulan daerah. Di sektor pariwisata, Jember memiliki garis pantai selatan sepanjang kurang lebih 170 kilometer yang menghadap langsung ke Samudera Hindia, kawasan Pegunungan Argopuro, serta destinasi unggulan seperti Pantai Papuma– Watu Ulo, Pantai Bandealit, dan Kawasan Rembangan. Penyelenggaraan event berskala internasional, seperti Jember Fashion Carnaval (JFC), turut memperkuat citra daerah sebagai #JemberMiniatureOfIndonesia. Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diakselerasi penyelesaiannya, antara lain peningkatan konektivitas dan infrastruktur, kepastian tata ruang, percepatan layanan perizinan, serta penguatan branding daerah. Berdasarkan hasil FGD, diperoleh kesimpulan bahwa tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada percepatan pembangunan infrastruktur, pengintegrasian data potensi daerah, serta kepastian regulasi. Sebagai respons, DPMPTSP bersama para pemangku kepentingan telah merumuskan empat strategi utama. Pertama, penguatan regulasi melalui penyiapan kebijakan penanaman modal daerah yang terintegrasi dan berkesinambungan, serta digitalisasi sistem layanan perizinan yang transparan, cepat, dan ramah investasi. Kedua, penguatan kemitraan lokal melalui konsep “Jember First” dengan mendorong kolaborasi antara investor dan pelaku UMKM daerah. Ketiga, peningkatan promosi investasi melalui pameran, business matching, dan selling mission. Keempat, penyusunan kalender event investasi dan pariwisata yang terintegrasi guna memberikan kepastian agenda kepada calon investor. Pengembangan pariwisata berkelanjutan juga menjadi perhatian utama, khususnya melalui konsep green tourism di kawasan Pantai Bandealit, Taman Nasional Meru Betiri, serta integrasi destinasi Watu Ulo–Tanjung Papuma. Pendekatan ini diarahkan untuk meningkatkan daya saing destinasi, memperkuat peran UMKM dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta menjaga kelestarian lingkungan. Secara geografis, posisi strategis Jember yang berdekatan dengan kawasan Bromo–Tengger–Semeru (BTS) serta akses menuju Kawah Ijen menjadi nilai tambah dalam pengembangan jejaring destinasi wisata regional. Hal ini sekaligus memperkuat upaya Pemerintah Kabupaten Jember dalam mendorong peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal. DPMPTSP Kabupaten Jember menegaskan bahwa investasi bukan sekadar masuknya modal, melainkan pembangunan ekosistem yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana arah kebijakan afirmatif Bupati Jember yang dijadikan strategi daerah, yakni “Jemput Bola Investasi dan Ramah Investasi” menuju Jember Baru, Jember Maju